Makhluk Social Media

Makhluk Social Media

210
0
SHARE

Makhluk Social Media – Manusia seharusnya adalah makhluk sosial, berinteraksi dengan sesamanya, berkomunikasi lewat percakapan lisan dan bahasa tubuh. Iya, itu manusia normal, bagaimana manusia yang seharusnya. Tapi apa yang aku lihat saat ini benar-benar menyedihkan. Manusia bukan lagi makhluk sosial yang berinteraksi secara lisan, tetapi sudah menjadi makhluk sosial media yang berkomunikasi melalui gadget nya, menggunakan messenger instant atau semacamnya.

Ya, perkembangan teknologi yang satu ini ternyata memang benar-benar mengerikan. Mudahnya berkirim pesan, banyaknya fitur pada suatu gadget membuat manusia terlalu asyik bermain di teknologi yang ada hingga ia terjebak dalam gadgetnya sendiri. Hidupnya tak lagi berwarna, interaksi ke dunia luar semakin dibatasi oleh teknologi. Mengerikan? Sangat.

Menyedihkan rasanya, ketika teknologi yang seharusnya dirancang untuk membantu mempermudah urusan manusia, justru bertindak lebih dari itu dan menjebak manusia itu sendiri. Manusia tak lagi saling menyapa ketika sedang berkumpul, lebih asyik bermain dengan gadgetnya masing-masing. Mengutak-atik menu, membuka tutup aplikasi, membalas chat, lalu tertawa sendiri. Sedih 🙁

Teknologi memang sudah membantu manusia untuk mendekatkan yang jauh, namun di sisi lain ia juga telah menjauhkan yang dekat. Manusia menjadi acuh, kurang memperhatikan keadaan sekitarnya hingga sering kali celaka karena kurang waspada. Iya, semua itu karena gadget. Tidakkah kamu lihat betapa menyedihkannya hidupmu ketika kamu lebih sering menunduk memandangi layar 5 inch daripada memperluas pandanganmu untuk menatap indahnya dunia? Hey, dunia ini terlalu indah untuk kau acuhkan!

Tidakkah kamu sedih ketika satu keluarga berkumpul namun tak saling bicara, bercengkrama dan bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing? Baru-baru ini aku merasa kehilangan sosok seorang ayah yang hidupnya seakan dikekang oleh gadget yang dimilikinya. Tidak ada lagi sosok ayah yang dulu jenaka dan selalu bisa memancing gelak tawa. Tak ada lagi sosok ayah yang selalu memperhatikan keluarganya. Yang ada hanya ayah yang selalu asyik sendiri, tertunduk memandangi layar 5 inch yang digenggamnya. Ya, gadget itu telah merebut semua perhatian ayah!

Entah siapa yang harus disalahkan, namun aku hanya bisa bersedih. Aku ingin ayah kembali menjadi seorang manusia, seutuhnya! Makhluk sosial, dan bukan makhluk sosial media! Ayah yang selalu memperhatikan keluarga, bukan gadget nya! Aku harap kalian para pembaca juga dapat menyadari betapa buruknya efek terlalu lama bermain gadget dalam hidup kalian. Jangan sampai kita menciptakan generasi penerus yang bukan manusia seutuhnya, generasi mendunduk, makhluk sosial media.

NO COMMENTS